Sabtu, 02 Juni 2012

PANCASILA ISI JIWA BANGSA INDONESIA (IV)

MEMPERINGATI HARI LAHIRNYA PANCASILA (2012)


BUNG KARNO:
PANCASILA ISI JIWA BANGSA INDONESIA  (IV)
Kursus ke-2 Tentang Pancasila Tanggal 16 Juni 1958 di Istana Negara
Tadi saya menandaskan kepada Saudara-saudara, cara hidup manusia mempengaruhi alam pikirannya. Juga mempengaruhi alam persembahannya -- kalau boleh saya pakai perkataan ini. Tatkala ia masih hidup di dalam hutan, di dalam gua-gua, apa yang ia sembah? Pada waktu malam gelap gulita di dalam hutan, ia hidup di dalam alam yang gelap, penuh dengan ketakutan. la melihat bulan dan bintang-bintang. la sembah bulan dan bintang-bintang itu. Pada waktu hujan lebat, ia takut kepada petir, laksana petir itu menyambamya. la menyembah pada petir. la menyembah kepada sungai, yang memberi ikan kepadanya. la menyembah kepada pohon yang rindang yang ia bisa bemaung di bawahnya. la menyembah kepada awan yang berarak. la menyembah kepada matahari yang memberi cahaya cemerlang pada siang hari. la menyembah kepada barang-barang yang demikian itu. Itulah Tuhannya pada waktu itu. Berupa gunung yang mengeluarkan api, berupa bulan, berupa bintang, berupa matahari. Ia punya Tuhan.
Saya tidak mengatakan itu Tuhan yang tepat, tetapi ia punya Tuhan pada waktu itu. Dan ini zaman tidak sebentar, lama sekali. Tuhannya yang berupa guntur dan petir, ia materialisir, ia materikan. Ia mendengar guntur yang menggeludug. Apa itu? "0, itu Thor, yang turun dari satu mega ke lain mega. Tiap-tiap kaki mengenai satu mega, keluar suara." Kalau ia mendengar guntur menggeledek itu, "Thor sedang berjalan" --"Thor sedang naik kuda, yang berlompat dari satu awan ke lain awan". Ia menyembah sungai yang memberi makan kepadanya. Sebagai di alam India yang dahulu, orang masih mengagungkan sungai. Sungai Gangga misalnya -- Bengawan Silu­gangga, kata orang Jawa. Sungai Gangga itu asalnya dari zaman baheula.
Ia menyembah sungai, menyembah petir, menyembah batu. Di dalam Bhagawad Gita diceriterakan, pada hakekatnya yang harus kita kenal dan kita hormati bukan batunya itu, tetapi dia punya jiwa yang menyembah. Di dalam Bhagawad Gita, Kresna berkata kepada Arjuna: "Kau kenal aku. Aku is Ik. Aku adalah hidup, aku adalah
 angin. Aku tiada mula tiada akhir, aku ada di dalam geloranya air samudra yang membanting di pantai." Itu juga disembah.
Sang manusia zaman dulu -- fase pertama itu -- kalau samudra sedang menggelora, membanting di pantai, menekukkan lututnya,
133
menyembah sebagaimana orang Jawa pantai selatan dulu kalau mendengarkan Lautan Kidul sedang menggelora, berkata: 'Lampor(33), lampor!" Manusia Jawa zaman dahulu, menyembah Lautan Selatan.
Saya kembali kepada Bhagawad Gita. Bhagawad Gita berkata: "Aku ada di dalam geloranya air laut yang membanting di pantai. Aku ada di dalam sepoinya angin yang sedang meniup. Aku ada di dalam batu yang engkau sembah. Aku ada di dalam awan yang berarak. Aku ada di dalam api, aku di dalam panasnya api. Aku ada di dalam bulan, aku ada di dalam sinamya bulan. Aku di dalam senyumnya sang gadis yang cantik. Aku yang tiada mula tiada akhir."
Bhagawad Gita menegaskan bahwa jiwa manusia sejak dari zaman dulu itu ada yang disembah. Tapi yang disembah itulah yang berubah­ubah. Zat yang ia sembah, yang ia tidak kenal, di dalam zaman fase pertama berupa pohon, berupa petir, berupa air laut, berupa sungai, sampai dimaterialisir: Thor, dewa dari donder. (34)
Notabene,(35) Saudara-saudara, kita punya perkataan guntur. Nama Guntur itu universil, Saudara-saudara. Di daerah Skandi-navia dewa langit dinamakan Thor. Geluduk, guruh, petir itu, orang Skandinavia zaman dulu mengatakan Kung Thor, King Thor, Raja Thor. Perkataan Kung Thor itu sama dengan kita punya perkataan guntur. Ini karena pada hakekatnya manusia di dunia itu adalah satu, mandkind is one­ -- manusia itu satu sebetul-nya. Yang berbeda-beda itu warna kulitnya. The same under the skin -- kata orang Amerika -- di bawah kulit sama saja. Kalimat itu pernah diucapkan pula, disitir oleh Presiden Eisenhouwer.
Fase pertama itu, Tuhan manusia. Saya ulangi, bukan Tuhan yang sebenamya, yang tepat. Dia punya begrip itu, manusia mengira Tuhan guntur, Tuhan air sungai, Tuhan angin. Contoh dari restan-restan kepercayaan ini tadi saya sebutkan. Di India orang masih menyembah Sungai Gangga. Di Jawa, lampor. Zaman dulu orang Yogyakarta kalau ada angin dari selatan meniup: "Lampor, lampor, lainpor!" Bahkan di kota Yogyakarta orang pasang lentera di luar rumah.
33 Suara gaduh dari angin, menurut kepercayaan suara orang halus (bhs. Jawa). 34 Guntur (bhs. Belanda).
35 Perhatikan (bhs. Belanda).
134

Fase kedua, manusia hidup dari peternakan. Pindah bentuknya ia punya Tuhan, terutama sekali berupa binatang. Oleh karena binatanglah yang memberi susu, daging, kulit kepadanya, oleh karena hidupnya sebagian besar tergantung kepada binatang. Ia punya Tuhan lantas dirupakan binatang. Ia malahan mengatakan kepada orang yang masih menyembah batu: "Masak batu disembah, pohon disembah, sungai disembah. lni Tuhan yang betul, berupa binatang."
Bangsa Mesir zaman dulu menyembah binatang, sapi yang bernama Apis, atau burung yang bernama Osiris. Bahkan di India sampai sekarang masih ada restan penyembahan binatang. Di daerah yang masih memegang adat kuno, jika Saudara mengganggu seekor sapi, Saudara dibunuh. Sapi adalah binatang keramat. Begitu keramatnya sampai tahi sapi dikeramatkan. Bukan saja sapi boleh masuk toko, masuk di mana-mana. Orang India yang masih kolot sakit, misalnya, minta tahi sapi yang masih hangat dicampur air, dan airnya dipercikkan kepada orang yang sakit. Wanita India yang masih kolot, tiap pagi sebelum membuat api untuk membuat roti bakar, sekeliling dapurnya disiram dengan air tahi sapi. Ya, oleh karena dia anggap ini keramat, pagar penolak segala bahaya. Ini adalah restan dari zaman manusia yang masih hidup terutama sekali di alam peternakan.
Tingkat ketiga, manusia hidup dari pertanian. Pindah, Saudara­saudara, dia punya begrip dari Tuhan itu kepada sesuatu zat yang menguasai pertanian. Timbul Dewi Laksmi, timbul Dewi Sri, timbul Saripohaci di tanah Pasundan. Dewi-dewi yang memberkati pertanian. Sebab pertanian adalah satu onzekerefactor,(36) tergantung dari iklim, tergantung kepada kering atau hujan, tergantung dari banyak hal. Kalau orang tani sudah menanam tanamannya, tidak lain ia lantas memohon. Ini adalah salah satu corak dari tiap bangsa agraris. Tentu ia hidup di dalam alam -- kata-karilah keagamaan, ketuhanan, religius -- tiap-tiap bangsa agraris, oleh karena segala sesuatu tergantung kepada onzekere factoren, yang mengenai iklim. Sesudah ditanam padinya, kalau untung, bisa memiliki hasilnya. Kalau kebanyakan hujan, mati tanamannya. Oleh karena itu ia memohon. Nah, Tuhannya itu lantas dibentukkan sesuatu yang berhubungan dengan pertanian: Dewi Sri, Dewi Laksmi,
36 Faktor yang tak pasti (bhs. Belanda).
135
Saripohaci, godinnen van de landbouw.(37) Malahan dibentukkan manusia. Tetapi di dalam alam pertama, tidak selalu dibentukkan manusia: pohon ya pohon, kayu ya kayu yang disembah. Sungai ya sungai yang disembah, belum dibentukkan manusia. Di dalam alam kedua, peternakan juga belum dibentukkan manusia. Sapi ya sapi, buaya ya buaya. Buaya disembah di alam Mesir yang dulu, coba lihat lukisan-Iukisan Mesir dulu! Pelanduk ya pelanduk, ular ya ular.
Tetapi di dalam alam ketiga, bentuk "Tuhan" -- yang manusia sembah -- dibentukkan manusia. Dalam ilmu pengetahuan dinamakan anthropromorph -- anthropus adalah manusia, morph adalah bentuk --berbentuk manusia. Berbentuk Dewi Laksmi, manis. Coba lihat patung Sri, Dewi Laksmi, manis. Di dalam pikiran, dewi-dewi ini, manis, anthropromorph. Demikianlah perpindahan begrip manusia dari- Tuhan-nya. Batu pindah kepada sapi, sapi pindah kepada anthropus, dewi.
Di dalam alam keempat, yang orang buat alat, siapa yang menjadi penentu dari alam pembuatan alam itu? Penentunya ialah terutama sekali akal. Akal, akallah yang melahirkan sabit, bajak, jarum. Uitvindingen(38) yang waktu itu masih sangat primitif, tapi toh uitvinding dari akal.
Tuhan manusia di dalam taraf keempat ini, adalah terutama bersarang -- di sini -- di akal. Yang tadinya berupa batu pindah berupa sapi, berupa dewi, di dalam alam keempat itu menjadi gaib. Gaib artinya tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Tadinya masih bisa diraba: batu bisa diraba, sungai bisa, sapi bisa, dewi bisa diraba. Malahan di zaman Yunani, diadakan kontes, tiap tahun, siapa yang dijadikan dewi. Dan si manusia itu yang disembah. Seorang gadis cantik didewikan, diadakan satu pemilihan di kalangan alim--ulama zaman itu -- ini dewi! Salah satu contoh yang sampai sekarang masih ada yaitu patung Aphrodite, buatan Praxiteles. Praxiteles seorang pembuat patung yang pandai sekali, membuat patung wanita Aphrodite -- Dewi Asmara -- yang sampai sekarang kalau orang melihat patungnya itu, "Bukan main!" Tetapi ia membuat patung itu dari apa? Modelnya apa, apakah ciptaan? Tidak.
37 Oewi-dewi pertanian (bhs. Belanda 38 Penemuan (bhs. Belanda).
136

Betul--betulan. Pada satu hari di tempatnya itu ada pemilihan Dewi Asmara, seorang wanita yang cantik, dikeramatkan menjadi Dewi Asmara. Dan ahli seniman ini membuat patung, modelnya, dus, benar-benar wanita itu, materi, zuiver mens(39) dan ia namakan patung ini Aphrodite.
Alam keempat gaib. Tuhan dimasukkan di dalam alam gaib.
Tuhan di mana? Tidak kelihatan tidak bisa mata melihatnya. Tidak bisa diraba, tidak bisa dilihat, gaib. Oleh karena akallah menjadi penentu dari hidup manusia.
Fase yang terakhir, industrialisme. Di situ malahan lebih dari digaibkan. Karena di situ manusia merasa dirinya -- atau sebagian dari manusia -- merasa dirinya Tuhan. Di dalam alam industrialisme itu apa yang tidak bisa dibikin oleh manusia. Mau petir? Aku bisa bikin petir. Aku, aku, aku bisa bikin petir. Menara yang tinggi, aku isi electrisiteit(40) sekian milyun volt, aku buka dia punya stroom­ -- petir! Aku bisa membuat petir.
Mau apa? Mau suara dikirim ke Amerika? Aku bisa membuatnya. Mau hujan? Sekarang ada pesawat-pesawat pembikin hujan. Mau outer-space,(41) keluar dari alam ini? Aku bisa, aku akan menguasai bulan. Aku bisa, aku kuasa! Tuhan, persetan! Tidak ada Tuhan itu. Lucunya di situ! Sebagian dari manusia berkata: "Tuhan tidak ada!" Saudara-saudara bisa mengikuti analisa ini? Batu atau pohon, pindah binatang, pindah dewi atau dewa, pindah ada Tuhan, tetapi tidak bisa dilihat, gaib. Nomor lima, sebagian dari manusia ­de heersers van de industrie, de geleerden(42) -- banyak yang berkata:
"Tidak ada Tuhan!" Hilang sama sekali begrip itu.
Nah, ini bagaimana? Saya menyelami rnasyarakat Indonesia, dan pada garis besarnya -- grootste gemene deler dan kleinste gemene veelvoud -- saya melihat, bahwa bangsa Indonesia percaya pada adanya satu zat yang baik, yaitu Tuhan. Ada juga orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi -- sebagai grootste gemene deler, kleinste gemene veelvoud -- bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan. Dan tadi saya berkata het kan niet anders, oleh karena masyarakat  Indonesia pada
39 Benar.benar orang (bbs. Belanda). 40 Listrik (bhs. Belanda).
41 Angkasa lu ar (bhs. Inggris).
42 Orang yang rnenguasai industri, ka urn ilrnuwan.
137
dewasa ini sampai kepada penggalian-penggalian ke dalam, terutama sekali masih hidup di dalam alam perpindahan keempat --- tiga keempat, dan empat kelima -- sebagian besar masih agraris, dan tiap-tiap bangsa yang agraris, mempunyai kepercayaan. Sebagian hidup di dalam alam kerajinan. Tadi pun saya terangkan, rakyat yang hidup di dalam alam nijverheid, pada garis besarnya percaya kepada Tuhan, bahkan Tuhan yang gaib. Sebagian kecil telah hidup di dalam alam industrialisme itu. Tetapi itu bukan lagi corak dari keseluruhan tingkat masyarakat kita. Tingkat masyarakat kita pada saat sekarang ini, ter-utama sekali ialah sebagian agraris, sebagian nijverheid, dan baru kita melangkah sedikit ke alam industrialisme.
Mengingat ini semua, het kan niet anders of kita ini harus satu rakyat yang mempunyai kepercayaan. Dus, kalau aku memakai Ketuhanan sebagai satu pengikat keseluruhan, tentu bisa diterima. Sebaliknya kalau saya tidak memakai Ketuhanan ini sebagai satu alat pengikat salah satu elemen, dari meja statis dan Leitstar dinamis itu, maka saya akan menghilangkan atau membuang satu elemen yang bindend(43), bahkan masuk betul-betul di dalam jiwanya bangsa Indonesia.
Kalau Saudara tanya kepada saya persoonlijk,(44)  apakah Bung Karno percaya kepada Tuhan? Ya, saya ini percaya dan tadi saya sudah berkata saya ini orang Islam. Bahkan saya betul-betul percaya kepada agama Islam. Saya percaya dengan adanya Tuhan. Lho lha kok manusia itu dulu menyembah patung, sapi, dewa atau dewi, kemudian gaib, apa Tuhan itu berubah--ubah? Tidak! Bukan Tuhannya yang berubah-ubah. Zat ini tidak berubah-ubah, tetapi yang berubah­-ubah ialah begrip manusia. Begrip manusia itu yang berubah-ubah, tergantung kepada fase hidupnya, cara hidupnya.
Tuhannya tetap ada, cuma dikira oleh manusia zaman itu, Tuhan itu beledek, atau air laut yang bergelora. Atau suara burung di dalam malam gelap gelita, itu dikira suara Tuhan. Demikian pula orang di dalam alam peternakan mengira bahwa Tuhan berupa sapi. Átau orang di dalam alam pertanian mengira Tuhan berupa Dewi Sri. Di dalam  alam nijverheid,
43 Terikat (bhs. Belanda).
" Secara pribadi (bhs. Belanda).


orang memberikan mahligai kepada akal, ya Tuhan ada, tetapi tidak bisa bilang, di mana. Dan orang yang sudah bisa memecahkan atom, ada yang berkata: Nonsens(45) Tuhan, aku bisa membuat atom, aku bisa menguasai langit. Pengiraan manusia yang berubah, Tuhan-nya tetap.
Aku pernah memberi satu gambaran seekor gajah di dalam kuliah saya di Candradimuka. Ada lima orang -- kelima-limanya buta dan belum pernah melihat gajah, karena butanya. Mereka datang pada seseorang yang mempunyai gajah: "He, kami lima orang kepingin tahu gajah." Boleh. Gajahnya besar dikeluarkan dari kandangnya. "Nah, ini gajah yang berdiri di muka Saudara-saudara. Coba Saudara A, kalau mau tahu gajah, peganglah gajah itu!" Si A maju ke muka, dipegangnya dan mendapat belalai gajah. Ditanya oleh yang punya gajah: "Bung, bagaimana bentuk gajah?" Jawabnya, gajah itu seperti ular. Padahal dia hanya mendapat belalai. B maju ke muka dan ia meraba-raba mendapat kaki gajah. "Gajah itu kok begini, empuk, tetapi seperti pohon kelapa. " C maju ke muka, orangnya tinggi, pegang-pegang, dapat telinga gajah. "Ya, gajah itu seperti daun keladi, Pak." Keempat, seorang agak kerdil, pegang-pegang, dapat ekor gajah. "Seperti pecut, cemeti." Nomor lima yang paling kerdil, maju ke muka, di bawahnya gajah. Tidak dapat pegang apa-apa. Mana gajahnya? Itu gajahnya, di atas Bung itu gajah. "0, gajah itu seperti hawa".
Begrip manusia kepada Tuhan juga demikian. Tadi seorang mengira gajah seperti belalai, satu mengira tidak ada. Tetapi gajah, ada. Cuma begrip manusia yang berbeda-beda.
Nah, Saudara-saudara, demikian pula kalau saudara tanya kepada saya, Tuhan bagi saya ada. Malahan bagi saya Tuhan adalah suatu reeel iets(46)Di dalam tiap-tiap saya sembahyang, saya bicara kepada Tuhan, dan saya sering minta apa-apa kepada Tuhan dan Tuhan kasih kepada saya. Dan itu memperkuat kepercayaan saya, bahwa Tuhan itu ada. lni cerita persoonlijk: Saya sering mendapat peringatan dari Tuhan berupa impian. Kalau saya mimpi -- dan mimpi itu saya rasa, ini mimpi-mimpi betul -- biasanya keesokan harinya teljadi. Bagi lain orang, lain barangkàli terjadinya itu, lain bulan dan sebagainya. Bagi
45 Omong kosong (bbs. Belanda).
46 Sesuatu yang sungguh-sungguh (bhs. Belanda).
139

saya -- praktik saya, kalau saya sudah mimpi dan saya merasa betul ini bukan impi-impian -- kontan keesokan harinya terjadi. Hal-hal yang semacam itu memberi keyakinan kepada saya bahwa Tuhan ada.
Bagaimana seluruh rakyat lndonesia pada garis besarnya? Kalau pada garis besarnya -- telah saya gogo, saya selami, sudah saya lihat secara historis, sudah saya lihat dari sejarah keagamaan -- pada garis besamya rakyat Indonesia ini percaya kepada Tuhan. Bahkan Tuhan yang sebagai yang kita kenal di dalam agama, agama kita. Dan formulering (47) Tuhan Yang Maha Esa, bisa diterima oleh semua golongan agama di lndonesia ini.
Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa lndonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau kita tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leitstar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah yang menjadi Leitstar kita yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu bangsa yang mengejar kebaikan. Bukan saja meja statis, tetapi juga Leitstar dinamis menuntut kepada kita supaya elemen Ketuhanan ini dimasukkan.
Dan itulah sebabnya maka di dalam Pancasila elemen Ketuhanan ini dimasukkan dengan nyata dan tegas.

47  Rumusan (bhs. Belanda). 
140

(Arsip – K.Prawira: BUNG KARNO “PANCASILA ISI JIWA BANGSA INDONESIA”, PANCASILA BUNG KARNO, Paksi Bhineka Tunggal Ika, 2005, hal.133-140)
Disiarkan ulang:  MD Kartaprawira, Nederland 02 Juni 2009
Disiarkan ulang oleh INDONESIA BERJUANG, 01 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar