Senin, 07 April 2014

Freeport Menang, Kontrak Diperpanjang hingga 2041

Freeport Menang, Kontrak Diperpanjang hingga 2041

7 April 2014 | 14:30
Xlarge_feb-ekbis-freeport-perpanjang-kontrak-ptfidotcodotid
NEFOSNEWS, Jakarta – Pemerintah akhirnya takluk menghadapi Freeport yang ingin lebih lama lagi berada di Papua. Kontrak karya (KK) perusahaan raksasa tambang asal AS ini diperpanjang 2 kali 10 tahun atau hingga 2041.
“Para pengusaha ini minta kepastian perpanjangan karena telah membenamkan dana investasi besar. Ini poin titik temu kami,” kata Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seperti dikutip dari Kontan, Senin (7/4/14).
Dengan perpanjangan durasi KK tersebut, berarti Freeport menambang di Papua selama 74 tahun. KK pertama PT Freeport Indonesia ditandatangani tahun 1967, tepat begitu Undang-undang Penanaman Modal Asing (UU No. 1 Tahun 1967) diberlakukan oleh Presiden Soeharto sebagai penanda dimulainya Orde Baru.
KK kedua ditandatangani tahun 1991. Seturut KK kedua ini, masa kerja Freeport akan berakhir pada 2021. Namun menjelang tenggat waktu itu, pemerintah ternyata memperpanjang kembali masa kerjanya hingga 2 x 10 tahun (sampai tahun 2041).
Perpanjangan KK itu sebenarnya bertentangan dengan UU No 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (minerba). UU ini menyatakan bahwa, KK setiap perusahaan yang habis masa kontraknya tidak akan diperpanjang. Rezim KK akan dihapus, diganti dengan rezim IUPK (izin usaha pertambangan khusus) yang setara dengan pertambangan biasa.
Bobby Rizaldi, anggota Komisi VII DPR RI mengatakan, indikasi perpanjangan KK Freeport sebenarnya sudah terbaca sejak lama. Sebab perlakuan pemerintah terhadap Freeport berbeda dengan Inalum atau Blok Mahakam.
Untuk Inalum dan Blok Mahakam, pemerintah sudah menyiapkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengambil alih keduanya. Namun untuk Freeport, pemerintah seperti tidak tertarik opsi selain memperpanjang KK, tidak menyiapkan BUMN untuk menguasai atau menasionalisasi Freeport. 
“DPR harus mengawasi ini, untuk memastikan apakah itu memang opsi yang terbaik bagi rakyat Papua dan Indonesia,” kata Bobby.
Selain Freeport, pemerintah juga berencana memperpanjang KK PT Vale Indonesia, perusahaan tambang asal Brasil. KK Vale semestinya habis pada 2025, namun kemudian diperpanjang hingga 2045. (anila)
Caption foto: Freeport perpanjang kontrak. (ptfi.co.id)

Komentar

Belum ada komentar Jadilah yang pertama!

Tulis komentar baru

Jokowi Membuat Papua Menangis

Jokowi Membuat Papua Menangis


KOMPASIANA,OPINI | 06 April 2014 | 11:43 


1396755108218466676
“Kita semua tahu bahwa Papua adalah provinsi yang sangat kaya sumber daya alamnya, keindahan panorama baik di darat maupun di laut hingga kebudayaan asli dari sejumlah suku bangsa para pemain bola asal Papua seperti Boaz Salosa, Patrik Wanggai, Ferdinand Pahabol dan Riki Kayame terus berjuang mempertahankan harga din i mereka sebagai bangsa Indonesia di bidang persepakbolaan ketika berhadapan dengan negara lain. Namun ketika konflik di Papua tetjadi, muncul berbagai pernyataan tentang orang Papua seperti: Papua gelap, sumber daya manusia relatif rendah, manusia masih primitif dan miskin, bendera kejora yang sering dinaikan, penembakan misterius, pelanggaran HAM, referendum dan merdeka lepas dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” (Bernarda Meteray, PENGUATAN KEINDONESIAAN DI ANTARA KEPAPUAAN ORANG PAPUA, jappy.8k.com)
Itulah sedikit rekaman dari Orang Papua dari bukan Orang Papua tentang Papua; itu adalah sedikit fakta yang ada, dan hampir-hampir menjadi pandangan umum. Papua, sebagaimana tak seikit wilayah di timur Nusantara, hidup dan kehidupan modern, maju, bersisihan dengan yang tradisional, miskin, dan kepapaan, serta ketidakmajuan. Papua, dan juga Indonesia Timur, lebih banyak menerima janji daripada program pembangunan; kekayaan alamnya lebih banyak dikuras, daripada membangun; orang-orangnya lebih seriang keluar menuju barat, daripada kembali ke kampung halaman. Semuanya itu, terus menerus terjadi, terulang, dan diulangi sejak lama.
Kini, 2014, ketika negeri ini mulai ramai dengan pergantian anggota parlemen dan juga (nanti) pergantian Presiden dan Wakil Presiden, Papua bukan menjadi target utama para politisi mendapat suara pemilih, (sama dengan beberapa daerah Indonesia Timur lainnya). Bagi mereka, Papua dengan jumlah penduduknya yang tak seberapa, bukanlah target untuk memperkenalkan diri.
Namun beda dengan Joko Widodo, dan juga timnya, mereka tidak melihat Papua sebagai kumpulan atau target suara yang tak seberapa, namun sebagai bagian yang sah dari NKRI. Papu adalah setara dengan daerah lain di NKRI, yang mempunya hak dan kempatan konstitusi serat politik yang sama; Papua juga bukan assesoris dalam perpolitikan Indonesia.
Dengan demikian ketika Joko Widodo, yang juga Kandidat Presiden, datang dan ada bersama orang Papua; mereka membawa spanduk, bendera partai, atau hanya kaus partai, bahkan mampu tenang untuk mendengar orasi dari Jokowi.
Di lapangan Karang PTC, Jayapura, Jokowi berkata kepada ribuan massa,
” … dirinya akan menangani semua masalah di provinsi paling timur di Indonesia itu dengan hati. Saya tidak ingin janji banyak. Saya yakin persoalan Papua akan bisa diselesaikan dengan hati dan kerja nyata, bukan dengan janji-janji. Saya melihat potensi yangg ada disini besar sekali, tapi potensi yang ada harus sebesar-besarnya dipakai untuk kemakmuran masyarkat Papua,”
Dan, menurut info pada pagi ini, yang diriku dapat langsung dari teman-teman di Papua, bahwa tak sedikit orang-orang gunung (desa, pedalaman) yang turun ke tempat Jokowi berada; padahal selama ini, mereka enggan lakukan itu, termasuk pada saat Pilkada I maupun II. Orang-orang gunung yang turun demi melihat Jokowi, bisa tertib, aman, dari awal hingga pulang; mereka puas dengan melihat dan mendengar Jokowi.
Sama halnya, ketika Jokowi berada di Pasar Remu Sorong, yang merupakan pasar terbesar di Kota Sorong; kedatangan Jokowi menjadikan aktivitas pasar sempat terhenti, karena pedagang dan pengunjung ingin melihat Jokowi. Jokowi cuma ngopi di salah satu warung kopi, melayani permintaan masyarakat yang hendak berfoto.
Reaksi orang-orang Papua di pasar tersebut, tak hanya berfoto dengan Jokowi, namun disaat gembira mereka, tak sedikit mama-mama dan bapak-bapak asal Papua pun menangis terharu; mereka menangis karena, “Tidak pernah ada gubernur Jakarta dan calon presiden yang datang ke pasar ini. Hanya dia, ….” ucap Welly Kambuaya, seorang penjual pinang.
Mereka menangis dan mengeluarkan air mata;
bukan air mata kesedihan
bukan air mata duka dan nestapa
bukan air mata kelaparan
Tetapi,
air mata sukacita
air mata kegembiraan
air mata kekaguman
air mata yang bercerita tentang diri yang papa, merana, dan derita
air mata pengharapan; pengharapan masa depan yang lebih baik
Ada juga yang berseru “Jokowi ko saja tra ada yang lain. Ko pasti Presiden,” atau “Jokowi kamu saja tidak ada yang lain. Kami pasti Presiden,  ….” ; Rugaya penjual makanan, juga berkata, “Orangnya sangat sederhana sekali. Saya kaget dan tidak sangka sekali, … ;” Jimmy Demianus Idjie, “Tak ada pesta penyambutan, namun rakyat menyambutnya dengan bahagia dan senang. Ini bukti ia benar-benar dicintai rakyat, …….”
Hal-hal di atas, hanyalah potongan cerita dan berita pada waktu kemarin ketika Jokowi di Papua; cerita dan berita, yang kini menjadi kebanggaan tersendiri pada orang-orang Papua yang sempat kontak fisik dengan Jokowi. Mereka bangga, sehingga bercerita, dan terus bercerita tentang sosok Jokowi; dan cerita mereka sampai ke jauh, melewati batas-batas geografis, hingga tiba pada diriku yang jauh dari Papua.
Dengan demikian, tak salah jika cukup banyak orang yang menyatakan dan menilai bahwa Jokowi mampu menselaraskan kembali bangsa dan rakyat Indonesia; Jokowi mampu sembuhkan bangsa yang sementara retak karena berbagai pesoalan; serta melakukan perubahan pada banya hal di negeri ini; atau, paling tidak, ada banyak orang Indonesia yang mau berubah, jika Jokowi menjadi Presiden RI.
Sehingga, walau belum secara resmi, namu dari hampir semua propinsi di Nusantara, telah ada relawan yang bekerja dalam rangkan sukseskan Joko Widodo sebagai Presiden RI. Ada ratusan ribu atah bahkan jutaan orang yang tanpa dibayar, bersedia melakukankampanye dengan caranya sendiri pada komunitasnya, agar Jokowi menjadi presiden.
Mereka, seakan berkata kepada Jokowi bahwa jangan takut menerima mandat dari rakyat untuk menjadi Presiden; tak perlu gentar, karena beban besar memperbaiki sikon rakyat akan menjadi ringan, kerena mereka mau memikulnya bersama Jokowi.
Bagi para pendukungnya, Jokowi adalah bagian dari perubahan dan perubahan itu sendiri. Bagi pendukungnya, Jokowi adalah selaras dengan keselarasan yang akan tercipta; serta secara bersama menjadi bagian yang selaras dalam keselarasan tersebut. Lebih dari itu, Jokowi pun dilihat sebagai sosok yang tepat untuk menerima mandat dari rakyat; man yang diberikan oleh pemilih/rakyat kepada yang dipilih atau menerima mandat.
Mandat tersebut bertujuan agar mereka (yang dipilih dan menerima mandat) berkarya sehingga tercipta keteraturan, ketertiban, dan kelangsungan hidup serta kehidupan berbangsa, bernegara; adanya kesetaraan serta hubungan baik  antara manusia dengan alam dan sesamanya, sehingga mereka selalu bersyukur kepada TUHAN Allah.
Dan, kesemuanya itu dapat diusahakan melalui banyak hal, termasuk mengembangkan serta meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan; memperjuangkan HAM; menggunakan dan mengelola hasil ciptaan untuk tujuan yang baik serta demi kepentingan manusia; serta mengembangkan kebudayaan dan hasil-hasilnya [misalnya iptek, bahasa, seni, tarian, nyanyian, dan lain-lain].
Dengan itu, nantinya Jokowi adalah pemegang mandat dari rakyat (yang memilihnya), sebisa mungkin ingat pada mereka yan memilihnya serta bertanggungjawab terhadap pilihan tersebut. Hal itu hanya bisa terjadi jika mereka tidak melakukan pembiaran-pembiaran terhadap hal-hal yang bertantangan dengan Undang-undang dan tujuan besar berbangsa serta bernegara. Termasuk tidak boleh menggunakan mandatnya untuk menindas serta merusak ciptaan pada masanya. Artinya, karena mandat yang ada pada dirinya, maka ia (mereka) mengeksploitasi ciptaan sampai habis, sehingga tidak tersisa untuk generasi berikut. Mandat tersebut, juga mempunyai muatan pemeliharaan, penataan, dan keselarasan agar kelangsungan alam semesta dapat terjamin dan terus berlangsung. Walaupun ciptaan bersifat tidak abadi, namun kelangsungannya perlu dijaga. Manusia patut memeliharanya sedemikian rupa, sehingga dalam ketidakabadiannya, hidup dan kehidupan tetap berlangsung atau berjalan.
Update, dari Medsos, ketika hal-hal di atas ada dishare, ternyata tangisan karena dan oleh Jokowi bukan saja datang dari Papua, namun ada juga tempat lain. Banyak orang bergetar dalam hati, dan tak menyadari bahwa air mata mereka tercurah; tercurah karena Jokowi.
Salam Kotak Suara

Sabtu, 05 April 2014

Kampanye di Papua, Jokowi kutip kata-kata Bung Karno

Kampanye di Papua, Jokowi kutip kata-kata Bung Karno
Reporter : Angga Yudha Pratomo | Sabtu, 5 April 2014 13:44
Merdeka.com - Bakal calon presiden Partai Demokrasi Indonesia PerjuanganJoko Widodo melakukan kampanye di lapangan PTC Entrop, Jayapura Selatan, Papua. Di lokasi, gubernur DKI itu langsung disambut ribuan peserta kampanye.

Menurut pria yang akrab dipanggil Jokowi itu, banyak potensi yang bisa digali dari tanah timur Indonesia tersebut. Namun, dirinya mengingatkan bahwa potensi tersebut terutama untuk kemajuan masyarakat.

"Potensi yang ada di sini sangat besar, tapi potensi yang ada itu sebesar-besarnya dipakai untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Papua," kata Jokowi di Papua, Sabtu (5/4).

Dia menambahkan, potensi besar itu hanya bisa diperoleh melalui kerja nyata dari hati. "Tapi yang paling penting dikerjakan dengan hati dan harus melalui kerja nyata, bukan janji-janji," ujarnya.

Maka dari itu, secara pribadi, dia mengingatkan agar masyarakat mencoblos partai berlogo banteng moncong putih jelang Pemilu yang tinggal menghitung hari. Sebab, kemenangan PDIP itu sangat penting bagi dirinya.

"Kemenangan (PDIP) itu yang paling penting di TPS masing-masing. Di Rt, Rw, kelurahan dan kecamatan itu dimenangkan. Yang datang di sini ajak saudara dan tetangganya untuk nyoblos," ujarnya.

"Rakyat digerakkan pilih nomor 4 PDI Perjuangan. Kalau itu sudah dilakukan, yang terakhir jaga TPS masing-masing agar hasilnya tetap sama," tambahnya.

Mantan wali kota Solo itu pun mengutip kata-kata perjuangan dari bapak bangsa, Soekarno dalam kampanye penutupnya ini.

"Kata Bung Karno, Bersatu kita kuat, kita kuat karena kita bersatu. Karena dari sinilah kita akan menang," tegasnya.
[did]

Megawati Menjawab – Lanjutan Penjualan Indosat dan LNG


Megawati Menjawab – Lanjutan Penjualan Indosat dan LNG

MegaVensca81News, Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri memberikan jawaban lanjutan menanggapi pertanyaan-pertanyaan sindiran lawan politik terhadap kebijakan yang “pernah” dibuatnya saat menjabat sebagai Presiden RI.
Setelah memberikan jawaban atas Penjualan Indosat ke Singapura dan Jual LNG ke China, kini Mega kembali memberikan jawaban lanjutan tentang kedua hal tersebut melalui akun twitter @MegawatiSSP.
Mulai…
Kalianlah semangatku, bekal perjuanganku dan yang juga buatku bertahan dari semua upaya gagalkan cita-citaku ingin lihat… Indonesia Raya.
Bag. Akhir Trilogi kuliah kita pagi ini adalah jawaban pertanyaan: Apa yag kita dapat dari Korut?  seputar Indosat dan LNG itu..
1.) Sebelumnya Baca ulang ttg Indosat, LNG dan beberapa BUMN yang dilepasrelakan, bukan sekedar memenuhi target APBN yang minus saja.
2.) Bukan pula hanya untuk membuat kas negara berisi kembali, agar pembangunan tetap bisa digerakkan dalam kondisi krisis
3.) Selain membayar hutang yg menumpuk & melepaskan diri dr jerat IMF, jg tuk raih kembali harga diri kita yg tercabik2 pasca reformasi.
4.) Harga diri ini harus kita kembalikan melalui percaturan politik dalam pergaulan Internasional.
5.) Aksi embargo senjata, tekanan politik adidaya hingga manuver kapal induk mereka di laut Jawa dan Timor sungguh melukai kedaulatan kita.
6.) Sebagai pemimpin, saya harus memberi rasa percaya diri pada para serdadu penjaga kedaulatan Republik ini.
7.) Hanya karena ekonomi kita terpuruk, peswt tempur tdk bs terbang & KRI tidak laik arung, negara lain tdk boleh injak martabat bangsa ini.
8.) Setelah kita lepaskan Indosat dan berapa BUMN untuk mengisi APBN, kita berhasil mendapat kepercayaan dari Rusia dan Poland.
9.) Rusia dan Poland tentu memiliki perhitungan terkait prospek APBN, mereka percaya kita sanggup membayar persenjataan yang akan kita beli.
10.) Selain itu, kita juga harus mendapat kepercayaan dari China. Setelah negosiasi harga LNG disepakati dengan syarat2 yang kita ajukan.
11.) Kita tidak miliki dana untuk bantu Korea Utara ketika itu. Kita bs bantu via LNG, lihat syarat bhw China bantu pangan tuk Korut.
12.) Dengan diplomasi gas ini, kita membuka kembali lembaran mesra dengan Korea Utara tanpa melukai hati Selatan.
13.) Dengan Korut, yang kita bantu itu, Indonesia mendapat beberapa hal dibidang teknologi yang mereka kuasai dan menggetarkan adidaya.
14.) Kim Jong Il berkomitmen bahwa negaranya akan menjadi bagian perisai bagi Indonesia dan menjaga sejarah Indonesia  diplomasi.
15.) Kim juga memberi ‘hadiah’ bagi percepatan kemajuan ilmu teknologi tertentu. Teknologi yang tidak semua negara boleh miliki.
16.) Efek diplomasi dan kunjungan resmi kita ke Rusia, Eropa Timur, China dan Korut itu menggetarkan mereka yang bermanuver di laut Jawa
17.) Mereka menarik kapal induk mereka dan perlahan mengurangi embargo senjata bagi TNI terutama AU dan AL.
18.) Perlahan pula kita bisa mengembalikan rasa percaya diri prajurit setelah kedatangan Sukhoi dan bbrp helikopter serta bangun perumahan.
19.) Para insinyur kita segera aplikasikan ilmu dari Utara, hingga jarak jangkau roket dalam negeri meningkat pesat
20.) Kita tidak bisa mengusir calon musuh, yang luka harga diri dan lecehkan TNI dengan kekuatan senjata kita kala itu, tapi hrs dgn cerdik
21.) Kita hrs bs mengusir musuh tanpa sebutir peluru. Meski sedikit berliku krna kondisi ekonomi lemah & ancaman pemberontak juga menguat.
22.) Itulah mengapa saya diam ketika protes soal Indosat, LNG atau lainnya. Pengamat hanya tahu itu semua untuk penuhi APBN didalam negeri.
23.).Tetapi kabinet dan wakil presiden telah bekerja keras, untuk diplomasi di luar negeri ketika itu
24.) Kecerdikan dan kebijaksanaan dalam memimpin negeri sebesar Indonesia, dimana kekuatan asing sangat tertarik, adalah keharusan.
25.) Silahkan salahkan saya saja soal tuduhan swastanisasi ketika itu. Tapi hargailah sedikit para menteri dan wakil presiden saya.
26.) Bukan cari pembenaran diri, ini penting bagi kalian calon pemimpin kedepan. Agar cerdik & bijak ambil keputusan tuk negara besar kita.
27.) Atau jika kalian kebetulan memimpin sebuah perusahaan atau apapun yang hampir bangkrut, cerdaslah dan cobalah belajar kepemimpinan.
28.) Jadi presiden itu mudah tapi jadi pemimpin? Nanti dulu… itulah yang perlu dipelajari dan saya bagikan disini.
29.) Hubungan Indonesia, Rusia, China, Korut ternyata membuka mata adidaya, bahwa kita tidak mau didikte. Adidaya takut blok terbentuk
30.) Setelah menarik kapal induknya, mereka malu malu mendekat dengan banyak investornya yang antri… dasar2 makro ekonomi perlahan pulih.
31.) Kita siap menyongsong ekonomi yang tumbuh signifikan, 2004 pemilu dan sampai disitulah saja….tidak ada follow-up.
32.)Demikian trilogi cara menjadi pemimpin yg dpt saya bagikan untuk kalian. Semoga cara mengambil keputusan & kebijakan ini dpt dipelajari.
33.) Mengambil keputusan jangan hanya berdasar ada satu pertimbangan, tapi perspektif banyak aspek & efek. Itu akan tunjukkan kualitas kita.
34.) Meski awalnya mungkin dihujat atau disalahkan, tapi jika kita sudah yakin, jujur dan bertanggungjawab, jangan takut.
35.) Jangan hanya bisa mengimpor beras, sapi atau garam kalau tujuannya satu: memenuhi perut yang lapar atau memperkaya diri
36.) Boleh saja impor atau ekspor, Tapi harus punya efek keuntungan bagi diplomasi, hankam dan terutama tidak rugikan petani. Bisa???
37.)Ingat semboyan “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. It’s not how to rule, but how to lead. That’s it! Salam bagi keluarga semua

Senin, 10 Maret 2014

Nyawa Rakyat Di Bawah Neoliberalisme

Nyawa Rakyat Di Bawah Neoliberalisme

BERDIKARIOnline, Senin, 10 Maret 2014 | 10:13 WIB   
 rakyat-miskin.jpgPernahkah anda membayangkan, ada sebuah sistem ekonomi yang mempercepat kematian banyak manusia? Ya, itulah sistim ekonomi neoliberalisme. Tidak percaya?
Pekan lalu, seorang petani warga Suku Anak Dalam (SAD) di Batanghari, Jambi, meninggal dunia setelah mengalami penyiksaan sangat keji oleh anggota TNI dan security PT. Asiatic Persada. Februari lalu, kita dikagetkan dengan kabar seorang pasien miskin dibuang oleh rumah sakit di pinggir jalan. Akhirnya, nyawa sang pasien yang sudah berusia lanjut itu tak bisa tertolong lagi.
Dua kasus di atas hanya contoh. Yang pertama adalah kasus konflik agraria. Sedangkan yang kedua adalah efek dari kebijakan privatisasi kesehatan. Kedua-duanya terkait dengan sistem neoliberalisme yang sedang diterapkan oleh rezim berkuasa saat ini.
Jumlah kematian warga negara akibat konflik agraria tidak kecil. Tahun lalu, berdasarkan catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), jumlah petani yang menjadi korban jiwa dalam kasus konflik agraria sebanyak 21 orang. Kemudian, di tahun yang sama, konflik agraria juga menyebabkan 30 orang petani tertembak, 130 orang mengalami penganiayaan, dan 239 ditangkap oleh aparat kepolisian.
Konflik agraria mencerminkan ekspansi kapital, sejalan dengan agenda liberalisasi ekonomi, dalam mencaplok sumber daya alam dan menguasai tanah-tanah luas untuk kepentingan bisnis. Ini bukan hanya soal penguasaan teritori atau wilayah, tetapi juga perampasan sumber daya dan ruang ekonomi masyarakat (petani dan masyarakat adat). Dalam proses ini, kekuatan kapital (perusahaan asing dan domestik) menggunakan aparat keamanan resmi (TNI dan Polri), security perusahaan, maupun menyewa preman bayaran, untuk menyingkirkan paksa masyarakat dari ruang hidupnya. Jadi, benturannya bersifat langsung.
Nah, agak berbeda dengan kasus konflik agraria, kematian warga negara akibat privatisasi kesehatan memang sulit dibaca dengan angka-angka. Namun, tidak bisa disangkal bahwa layanan kesehatan yang sudah diprivatisasi, yang menyebabkan biaya layanan menjulang tinggi, menyebabkan orang miskin kesulitan mengakses layanan kesehatan untuk mengobati sakitnya. Biaya kesehatan yang mahal juga berkontribusi pada menurunnya angka harapan hidup mayoritas warga negara, terutama kaum miskin.
Kebijakan neoliberal yang lain, seperti penghapusan subsidi, liberalisasi impor, privatisasi layanan publik, penciptaan pasar tenaga kerja yang fleksibel, dan lain-lain, juga berkonsekuensi pada ‘kematian massa’ rakyat Indonesia.
Penghapusan subsidi BBM berimbas pada kenaikan harga-harga barang dan biaya kebutuhan hidup rakyat. Banyak yang mencoba menyiasatinya dengan ‘mengencangkan ikat pinggang’. Akan tetapi, pada kenyataannya, siasat ‘mengencangkan ikat pinggang’ itu membuat kualitas hidup rakyat menurun. Malahan, warga miskin yang tak banyak pilihan bersiasat terpaksa memilih jalan pintas: bunuh diri.
Begitu pula dengan kebijakan liberalisasi impor. Liberalisasi impor pangan, misalnya, menyebabkan banyak petani lokal menjerit akibat kehilangan akses pasar [sebab, pasarnya direbut oleh pangan impor yang harganya lebih murah]. Akibatnya, sektor pertanian kita hancur lebur.  Liberalisasi impor pangan juga menyebabkan hancurnya ketahanan pangan kita. Sudah begitu, harga pangan diserahkan kepada mekanisme pasar. Akibatnya, rakyat banyak—terutama kalangan menengah ke bawah—kesulitan mengakses pangan untuk kebutuhan pangan. Padahal, pangan adalah kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup.
Situasi serupa juga dirasakan oleh rakyat akibat privatisasi layanan publik [pendidikan, kesehatan, listrik, perumahan, air bersih, dan lain-lain]. Sejak layanan air bersih dikuasai oleh swasta/korporasi, rakyat makin sulit mengakses air bersih. Kalaupun ada, mereka harus membayar mahal. Begitu pula dengan soal pendidikan, kesehatan, listrik, perumahan, dan lain-lain; rakyat sulit mengaksesnya. Hal tersebut membuat kualitas hidup rakyat merosot.
Begitu juga dengan sektor perburuhan. Untuk menopang proses akumulasi kapital, pemerintah diarahkan untuk menciptakan pasar tenaga kerja yang fleksibel, yakni dengan memberlakukan sistim kerja kontrak dan outsourcing. Tak hanya itu, pemerintah juga mempromosikan tenaga kerja melalui politik upah murah dan tenaga kerja cadangan yang melimpah. Kalau terjadi gejolak akibat kebijakan itu, semisal pemogokan buruh, maka pemerintah akan mengirimkan TNI dan Polri untuk melibasnya.
Jadi, entah kita sadari atau tidak, ada sistem yang bekerja sebagai mesin pembunuh sangat massif. Nyawa rakyat seakan tidak ada artinya. Lihat saja, kendati petani, buruh, dan rakyat miskin dibunuhi dalam berbagai konflik dengan kekuatan kapital, negara tidak pernah hadir untuk mengusut dan menegakkan keadilan. Aparatus penegakan hukum juga sudah dibeli oleh para pemilik modal.
Memang, negara di bawah neoliberalisme mengalami deformasi. Negara bukan lagi sebagai ‘penjaga kepentingan dan menciptakan kesejahteraan umum’, melainkan sebagai instrumen untuk melayani proses akumulasi kapital. Konsep “warga negara” juga terlucuti. Di bawah neoliberalisme [kapitalisme], warga negara hanyalah manusia yang teratomisasi dan diperuntukkan sebagai instrumen untuk melayani tujuan akumulasi kapital, yakni sebagai penjual tenaga kerja murah dan pembeli (konsumen). Negara mana peduli dengan rakyat yang sakit, menganggur, mengemis, tidak berpendidikan, kelaparan, tinggal di bawah kolong jembatan, dan lain-lain.
Padahal, pembukaan UUD 1945 sangat tegas mengamanatkan: …membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Artinya, negara berkewajiban melindungi hak hidup setiap warga negara, memajukan kesejahteraan dan mencerdaskan mereka sebagai prasyarat untuk pengembangan diri mereka sebagai manusia merdeka.
Di dalam UUD 1945 (asli) juga diatur hak-hak warga negara, yang wajib dipenuhi oleh negara, agar rakyat bisa bermartabat: kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintah (pasal 27 ayat 1), pekerjaan dan penghidupan yang layak (pasal 27 ayat 2), kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat (pasal 28), kemerdekaan beragama dan berkeyakinan (pasal 29), berhak mendapat pengajaran/pendidikan (pasal 31), demokrasi ekonomi dan kemakmuran bersama (pasal 33), dan hak fakir miskin dan anak-anak terlantar untuk dipelihara negara (pasal 34).
Masalahnya, kendati hak-hak rakyat itu diukir indah di dalam konstitusi, tetapi pemerintah mengabaikannya. Memang, negara yang mengadopsi neoliberalisme tidak tunduk pada konstitusi, melainkan tunduk pada tuntutan kekuatan kapital global dan instrumennya (IMF, Bank Dunia, WTO, dll).
Tags: 
URL Singkat:

Jumat, 28 Februari 2014

SEABAD RM DJAJENG PRATOMO Pejuang yang Terlupakan


RM Djajeng Pratomo di usia tua (kiri) dan mengenakan kostum tari Jawa (kanan). Foto: Aboeprijadi Santoso.
SEABAD RM DJAJENG PRATOMO
Pejuang yang Terlupakan
Dia berkampanye memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bergerilya-kota melawan Nazi-Jerman, serta membela kemerdekaaan Indonesia saat agresi Belanda.
OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 2416 | Dimuat: 24 Februari 2014
RADEN Mas Djajeng Pratomo genap seabad pada 22 Februari 2014. Hidup mandiri di apartemen di desa ‘t Zand di ujung utara Belanda, Djajeng lama tersisih dari perhatian media di Belanda maupun Indonesia.
Dia lahir di Bagan Siapi-api, kota pasar ikan di pantai timur Sumatra, putra sulung Dr Djajengpratomo dari Pakualaman Yogyakarta.
Ayahnya, Djajengpratomo, mengenyam sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi kaum ningrat, STOVIA, di Batavia. Dia salah satu alumnus pertamanya. Asal-usulnya yang memberinya privilese pendidikan itulah yang justru membuat dirinya insyaf akan status diri dan patrianya sebagai bagian dari sistem negeri jajahan. Ini melahirkan aspirasi kebangsaan dan mendorongnya ikut gerakan nasionalis pimpinan Dr Soetomo.
Djajengpratomo mempelopori pelayanan kesehatan di klinik di Bagan Siapi-api. Berkat perannya –dia mahir berbahasa Tionghoa untuk melayani mayoritas penduduk yang asal Tionghoa– namanya diabadikan pada rumahsakit lokal: RSUD Dr Pratomo.
Djajeng Pratomo –semula namanya Amirool Koesno, kemudian digantinya dengan nama ayahnya– bernasib hampir serupa. Seperti ayahnya, privilese yang memungkinkannya masuk sekolah menengah Koning Willem II School di Batavia membuat dirinya sadar sebagai anak jajahan. Menyusul adiknya, Gondho Pratomo, Djajeng pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden.
Justru di Belanda Djajeng menemukan budaya aslinya. Dia menggemari, mempelajari, dan mementaskan tari Jawa melalui kelompok seni tari De Insulinde.
Tahun 1930-an adalah tahun krisis. Naziisme-Hitler berkuasa di Jerman dan mengguncang Eropa. Djajeng menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah klub sosial mahasiswa Indonesia di Belanda yang didirikan pada 1922 dan kemudian berkembang jadi organ politik kebangsaan yang gigih melawan kekuatan fasis. (Baca: Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan)
Nama Djajeng tak terpisahkan dari Stijntje ‘Stennie’ Gret, gadis Schiedam yang dijumpainya di sebuah toko buku pada 1937. Stennie meminati perkembangan di Hindia dan tertarik pada seni tari Jawa. Bersama Djajeng, yang kemudian jadi suaminya, keduanya menjadi mitra di bidang budaya sekaligus sekutu politik.
Dasawarsa 1930-an merupakan hari-hari bahagia mereka. Dua sejoli ini sering menikmati pergelaran jazz di teater prestisius Pschorr di Coolsingel, Rotterdam, dan De Insulinde mementaskan tarian Jawa oleh Djajeng di Koloniaal Instituut van de Tropen di Amsterdam. Di mana ada Djajeng, di situ ada Stennie. Juga ketika De Insulinde mementaskan tari di London untuk menghimpun dana guna membantu Tiongkok yang kala itu diduduki tentara Jepang.
Tahun 1940-an menjadi masa bergolak yang penuh tragik. Di bawah pendudukan Nazi, PI jadi ilegal. Polisi Jerman memburu para aktivisnya. Pada 1943 Djajeng dan Stennie ditahan di kamp Vught. Tahun berikutnya mereka dikirim ke kamp maut Nazi di Ravenbruck dan Dachau di Jerman.
“Di Dachau,” Djajeng berkisah, “saya melihat tumpukan mayat setiap hari.” Sebagai tenaga kerja paksa untuk pabrik pesawat terbang Messerschmitt, setiap hari dia menyaksikan orang digantung mati. Jika ada peluang, Djajeng mencoba menyelamatkan tawanan, tutur salah seorang yang diselamatkannya. Sementara di kamp Ravenbruck, Stennie mencat-hitam rambut para tawanan perempuan agar tampak muda ketika penguasa kamp memerintahkan untuk membinasakan para tawanan jompo.
Selamat dari derita kamp, Djajeng dan Stennie dibebaskan tentara Sekutu namun baru bertemu kembali pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka lalu menikah sebagai warga negara Indonesia pada Februari 1946 dan melanjutkan pekerjaan politik untuk membela kemerdekaan Indonesia.
Ketika Belanda melancarkan agresi militer I pada Juli 1947, PI menggelar protes massal di Concertgebouw, Amsterdam. Kampanye membela kemerdekaan Indonesia membawa mereka ke Eropa Timur. Di Praha, Djajeng dan kawan-kawannya turun ke jalan dan dengan bangga mengibarkan bendera Merah-Putih ketika dia memimpin delegasi Indonesia di World Federation of Democratic Youth. Kampanye itu bahkan berlanjut sampai Serajewo dan kota kota lain di Yugoslavia. Kembali ke Belanda, mereka bergerak di bawah tanah selagi pecah perang kemerdekaan di Indonesia.
Djajeng dan Stennie dua kali berencana pulang ke Indonesia, namun membatalkannya. Kali pertama karena agresi militer I dan kali kedua karena terjadi pembantaian 1965-1966. Lalu, dengan alasan pragmatis, mereka beralih ke kewarganegaraan Belanda pada 1975. Akhirnya, setelah kurun enam dasawarsa, Djajeng dan Stennie sempat menginjakkan kaki di Indonesia.
Kembali di Belanda, Djajeng tetap aktif politik di front internasional, dan baru berhenti ketika Stennie jatuh sakit dan meninggal pada 2010.
Djajeng, Stennie, dan kamerad-kameradnya tergolong generasi yang meyakini bahwa sejarah selalu bergerak maju. Dengan begitu mereka merumuskan idealisme dan kekuatan politiknya berdasarkan solidaritas internasional. Kini mereka hidup di dunia yang telah berubah radikal. Namun perubahan itu tidaklah seperti yang mereka bayangkan dan proyeksikan.
Meski begitu, Djajeng tak merasa kecewa. Dia masih mencintai Indonesia, dengan seni tari, musik gamelan, serta kulinernya. Djajeng kini tak mampu lagi berbahasa Indonesia. Namun, dengan semangat internasionalnya, idealisme kepatriotan dan aksi-aksi perjuangannya, Djajeng Pratomo adalah salah satu patriot istimewa Indonesia.
*) Dengan terima kasih atas perantaraan Ny. Marjati Pratomo.
Sumber: http://historia.co.id/artikel/persona/1344/Majalah-Historia/Pejuang_yang_Terlupakan

Minggu, 09 Februari 2014

FILM "GAJAH MADA" SEGERA DIGARAP

FILM "GAJAH MADA" SEGERA DIGARAP

Disiapkan oleh  
Diterbitkan di Selebritis
 Minggu, 09 Februari 2014 19:30
Beri nilai item ini
(0 penilaian)

film Gajah Madafilm Gajah Madahiburan.plasa.msn.com/WARTAHARIAN.CO
WARTAHARIAN.CO-(Kediri)  Perjalanan hidup Gajah Mada, Patih Kerajaan Majapahit yang dicatat sejarah Indonesia sebagai patih yang hebat karena mampu menyatukan Nusantara, sebentar lagi bisa disaksikan di layar lebar.
Film "Gajah Mada" yang mengambil tema "Sira Gajah Mada Ambekel Ing Bhayangkara", akan mulai diproduksi pada Mei 2014 mendatang oleh rumah produksi PT Tawi Nusantara yang penggarapannya akan memakan waktu 2 sampai 3 bulan.
Berbagai Proses persiapan penggarapan film Gajah Mada kini sudah mulai dilakukan, dan agar sesuai dengan sejarah, kota Kediri telah dipilih sebagai salah satu lokasi pembuatan film tersebut selain Gunung Bromo, Malang, Tulungagung dan Indramayu.
"Napak tilas sejarah Gajah Mada sebelum mempersatukan Nusantara memang diawali dari tugas dan tanggung jawabnya di Kerajaan Dhaha atau Doko Ngasem Kabupaten Kediri," Renny Masmada, penulis skenario sekaligus sutradara film itu di Hotel Bukit Daun, Kediri, Jawa Timur, Minggu.
Renny mengaku sudah melakukan riset yang menurutnya memakan waktu yang cukup lama, sampai puluhan tahun dia mendalami sejarah Patih yang memproklamirkan Sumpah Palapa itu.
"20 tahun saya meriset sejarah dan cerita tentang Gajah Mada. Waktu yang tidak sebentar itu saya gunakan untuk menjelajah, menelusuri dan mencari jejak perjalanan Gajah Mada yang kepopulerannya melebihi Genghis Khan," tuturnya.
Beberapa aktor dan aktris terbaik akan dilibatkandalam penggarapan film bertema klasik kolosal tersebut. antara lain : Ray Sahetapy, Jajang C Noer, Adipura, Pong Hardjatmo, Boy Lee, Ajeng Viola Pitaloka dan Rangga Djoned.
Film kolosal itu diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp 30 miliar terutama karena melibatkan banyak pemain, kostum dan setting lokasi.
"Ini film klasik kolosal tentang abad ke 13 dan 14, yang pasti banyak sekali pemainnya, sekitar 2.000 sampai 3.000 orang akan ikut bermain dalam film ini," kata Renny.
Tak hanya adegan peperangan, penonton juga akan dibuat kagum dengan seting Kerajaan Majapahit yang akan dibuat mendekati aslinya, janji Renny. (WH/AP)

(http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2014_02_01_archive.html)